SEMARANG | kawanbisnis.com – Sekolah Tinggi Agama Islam Walisembilan Semarang (SETIA WS) tengah bersiap-siap untuk naik status menjadi institut. Berbagai persiapan untuk merealisasikan rencana itu sedang dilakukan dan dimatangkan, salah satunya dengan bersiap membuka tiga program studi (Prodi) baru.
Ketua SETIA WS, Dr. Hj. Uswatun Marhamah, M.Pd mengatakan persiapan itu diantaranya adalah upaya peningkatan kualitas sumberdaya manusia (SDM) dosen dan tenaga kependidikan (Tendik) melalui berbagai program pembinaan dan penguatan sistem.
“Kami menghadirkan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. Amin Suyitno, M.Ag untuk memberikan pembinaan kepada pendidik dan tenaga kependidikan di lingkungan SETIA WS agar kualitas layanan pendidikan meningkat,” kata Uswatun dalam kegiatan Pembinaan Dosen, Tendik dan civitas akademika yang berlangsung di aula SETIA WS, Penggaron Kidul Pedurungan Kota Semarang, Sabtu (18/7/2026).
Menurutnya, selain untuk memperluas pelayanan dan pemenuhan kebutuhan masyarakat, pembukaan tiga prodi baru itu juga sebagai langkah persiapan alih status dari Sekokah Tinggi menjadi Institut yang sudah lama direncanakan .
Tiga prodi baru itu, lanjuthya meliputi Manajemen Bisnis Syariah, Manajamen Haji & Umroh dan Pendidikan Anak Usia Dini.
Ketika tiga prodi baru itu dibuka, kata dia, maka jumlah prodi yang dikelola menjadi tujuh prodi, karena saat ini terdapat empat prodi, yakni; Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI), Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), Hukum Keluarga Islam (HKI) & Komunikasi Penyiaran Islam (KPI).
Dalam pembinaannya, Prof. Amin Suyitno menekankan bahwa membangun perguruan tinggi yang unggul bukanlah proses instan, melainkan membutuhkan ketekunan, komitmen, dan semangat untuk terus melakukan perbaikan secara berkelanjutan.
“Lembaga pendidikan yang berproses, akan mengalami perubahan dalam pelaksanaan dan penyelenggaraannya, meskipun menghadapi berbagai kesulitan dan perjuangan, justru akan lebih terjamin ketahanan dan kualitasnya. Dari proses itu akan tumbuh rasa memiliki sehingga seluruh sivitas akademika terdorong untuk terus berbenah dan berubah menjadi lebih baik,” kata Prof Amin.
Ia melanjutkan, tantangan yang dihadapi sebuah institusi hendaknya dipandang sebagai bagian dari proses pendewasaan organisasi. Perguruan tinggi yang tumbuh melalui proses perjuangan akan memiliki fondasi yang lebih kokoh karena dibangun atas komitmen bersama seluruh warga kampus.
Oleh sebab itu, ujarnya, budaya sense of belonging harus terus dipupuk agar setiap dosen dan tenaga kependidikan memiliki tanggung jawab yang sama dalam mewujudkan visi dan misi institusi.
Selain menekankan pentingnya budaya mutu, SETIA WS harus memperkuat benchmarking dan networking sebagai strategi pengembangan perguruan tinggi di era yang semakin kompetitif. Benchmarking merupakan proses belajar dari praktik-praktik terbaik yang telah diterapkan oleh institusi lain, sedangkan networking menjadi sarana membangun relasi dan kolaborasi yang saling menguatkan.
“Perguruan tinggi tidak dapat berkembang sendiri. Diperlukan benchmarking untuk belajar dari lembaga lain dan networking untuk membangun kolaborasi yang saling melengkapi. Dengan jejaring yang luas, perguruan tinggi dapat berbagi pengalaman, sumber daya, dan inovasi sehingga kualitas pendidikan terus meningkat,” ujarnya. (*)


