Ekspor Komoditas Furniture Tertinggi, Pemkab Jepara Galakkan Pelatihan Inovasi Produk Ukir Kayu

5 Min Read
Pelatihan inovasi produk ukir kayu di Pantai Kartini Jepara. Foto: dokumentasi

JEPARA | kawanbisnis.com – Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, sektor industri masih menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat. Tahun 2025, industri pengolahan tetap berkontribusi paling besar terhadap perekonomian daerah, yakni 33,61 persen dari total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jepara.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi mencapai 5,41 persen, meningkat dibanding pada 2024 (4,26 persen). Di sektor industri, furniture menjadi andalan Jepara, dengan 892 perusahaan furniture yang nilai investasinya lebih dari 1,17 triliun dan mampu menyerap 8.259 tenaga kerja.

Furniture kayu menjadi komoditas ekspor terbesar dari Jepara. Tahun 2025 nilainya mencapai 197 juta Dolar AS atau setara 3,29 triliun dengan jangkauan 114 negara tujuan ekspor.

Nilai 197 juta Dolar AS setara 34,5 persen dari total ekspor Jepara yang mencapai 570,85 juta Dolar AS. Artinya, setiap 3 Dolar AS nilai ekspor Jepara, lebih dari 1 dolarnya berasal dari furniture kayu.

inovasi produk ukir kayu terus digalakkan di Jepara, dengan fokus utama pada pembaruan teknik, adaptasi desain, dan regenerasi perajin muda.

Pemerintah Kabupaten Jepara melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), dengan berbagai institusi gencar memberikan program pelatihan untuk menjaga kelestarian ornamen serta meningkatkan daya saing mebel.

Salah satunya mengadakan Pelatihan Inovasi Produk dengan Ornamen Ukir, Pelatihan Pemanfaatan Limbah Kayu, serta Penyerahan Kartu Mebel Jepara bagi karyawan mebel dan juga pengukir Jepara.

Disperindag bekerjasama dengan Yayasan Pelestari Ukir (PELUK) Jepara yang diketuai Hadi Priyanto menggelar kegiatan tersebut yang berlangsung mulai 22-25 Juni 2026, di Pantai Kartini Jepara, Senin (22/6/2026).

Witiarso Utomo menegaskan, kegiatan tersebut memiliki maksud strategis bagi masa depan industri mebel ukir Jepara. Selain sebagai komoditas ekonomi, tetapi juga maha karya seni warisan leluhur secara turun-temurun yang harus dijaga identitasnya.

“Jepara dikenal sebagai The World Carving Center (pusat ukir dunia). Pelatihan inovasi produk dengan ornamen ukir, bisa mendorong lahirnya desain baru tanpa tercabut dari akar identitas Jepara,” ujar Mas Wiwit, sapaan akrabnya.

Menurut Bupati, kemajuan industri mebel tidak hanya diukur dari nilai ekspor, tetapi dari kesejahteraan para pekerja dan pengukir yang berada di belakang setiap produk yang dihasilkan harus kita perhatikan. Selain itu, harus berani menjaga kualitas karya Jepara, agar tetap menjadi pilihan di pasar internasional.

Pemerintah Kabupaten Jepara akan terus hadir melalui kebijakan, fasilitasi, pelatihan, dan pembinaan. Kartu Mebel Jepara ditempatkan sebagai basis data pekerja mebel dan juga pengukir yang lebih akurat.

“Saya telah menyiapkan program unggulan di sektor ini, mulai Festival Ukir Internasional, Pengembangan Museum Ukir Nusantara, Pasar Mebel Jepara, hingga UMKM naik kelas, serta Kartu Mebel Jepara yang sudah kita serahkan sebanyak 850 dari target 1500 Kartu Mebel Jepara,” ungkapnya.

Melalui berbagai kegiatan itu, lanjutnya, pemerintah dapat menyusun program pembinaan yang tepat sasaran, meningkatkan kompetensi pekerja, serta membuka akses dukungan pendidikan bagi putra-putri pekerja mebel dan juga pengukir, melalui berbagai program, seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP), Program Indonesia Pintar (PIP), serta Jaminan .

“Mari kita jaga, agar Jepara tidak hanya dikenal sebagai daerah penghasil mebel, tetapi menjadi pusat industri furniture dan ukir berkelas dunia yang mampu memberikan kesejahteraan masyarakat Jepara,”jelasnya.

Sementara, Ketua Gerakan Ekonomi Kreatif (GEKRAFS) Kabupaten Jepara, Muhammad Abdul Chaq menuturkan, GEKRAFS Jepara ke depan akan fokus mengembangkan berbagai sektor ekonomi kreatif yang mendukung . Hal ini sejalan dengan pengembangan ukir Jepara, untuk menembus pasar dunia.

Program yang disiapkan antara lain pengembangan dan promosi destinasi wisata, digitalisasi sektor pariwisata, hingga pengembangan produk suvenir dan oleh-oleh khas Jepara, termasuk mebel dan ukiran.

Menurutnya, dukungan dan sinergi dari pemerintah daerah menjadi hal penting agar berbagai program yang dirancang dapat berjalan optimal. Ia siap mengawal dan mendampingi para pekerja mebel dan pengukir Jepara, agar ukiran Jepara mampu bertahan dan pekerja mebel serta pengukir lebih sejahtera.

“Kami GEKRAFS Jepara siap mendampingi dan mengawal program panjenengan semua, sehingga para pekerja mebel dan pengukir Jepara kesejahteraannya meningkat, dan generasi muda harus dikenalkan ukiran dan dilatih mengukir,” tegasnya. (*)

Share This Article