SEMARANG | kawanbisnis.com – Para senior Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) berpesan agar kuantitas sebaran kader yang lebih merata di kota Semarang harus diimbangi dengan kualitas.
“Kuantitas kader saat ini lebih banyak tapi harus diimbangi dengan kualitas,” kata salah satu senior, Dwi Supratiwi dalam sarasehan kegiatan Latihan Instruktur dan Pelatih (Latin dan Latpel) di MA Darussalam, Meteseh Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (2/5/2026) malam.
Menurut dia, kader IPNU dan IPPNU saat ini tidak banyak yang tampil ke publik secara langsung. Sehingga kepercayaan diri dan kepekaan terhadap situasi dan kondisi tidak muncul. Terlebih dalam kontestasi organisasi kepemudaan di Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI).
“Kalau dulu kader kita banyak yang tampil bermitra dengan pemerintah dan organisasi kepemudaan, sehingga banyak kader yang eksis di KNPI,” ungkapnya.
Padahal, lanjutnya, kemampuan berorganisasi akan semakin terasah ketika banyak kerja sama dengan pihak lain.
“Sudah tidak lagi eranya IPNU dan IPPNU ikut terlibat dalam demonstrasi. Saat ini kita harus lebih sering bermitra, terutama dengan pemerintah,” tandasnya.
Ia mengingatkan, kaderisasi formal yang sudah ada semestinya diimbangi dengan target produk kaderisasi. Jangan sampai minat dan bakat yang ada tidak terakomodir dalam kegiatan organisasi.
“Kegiatan kaderisasi jangan hanya menekankan formalnya, tapi harus punya target dalam kaderisasi,” pesannya.
Selain itu, ia juga mengingatkan agar kader melek digital seiring dengan perkembangan teknologi. “Teknologi semakin canggih, semestinya gerakan juga semakin cepat dan solid,” tuturnya.
Senada, Slamet Gyanto mengatakan eksistensi kader IPNU harusnya kuat di Ansor dan IPPNU berlanjut ke Fatayat NU, dan bahkan ke berbagai lembaga atau badan otonom NU yang terkait dengan pelajar seperti LP Ma’arif NU, Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) dan Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU)..
“Kalau terus berlanjut tentunya kader yang jadi pengurus NU bisa lebih memperhatikan kebutuhan pelajar, bisa memberikan kebijakan yang tepat untuk organisasi,” ujarnya.
Senior lainnya, Muhammad Busro menambahkan kegiatan tersebut tidak hanya diikuti kader kota Semarang. Sedangkan senior yang hadir dalam sarasehan nampak dari era 2000-2020. Menurut dia, potensi yang ada sudah sangat jelas.
“Ada banyak senior yang sudah eksis di berbagai profesi, kalian bisa belajar berbagai macam ilmu lewat diskusi yang menghadirkan senior. Jadi jangan terpaku pada kaderisasi formal, perbanyak forum diskusi dan rencana aksi,” pesannya. (rq)


