Buruh Bangunan Batal Nikah demi Berangkat Umrah

4 Min Read
Sutarto (69), jemaah umrah PT Alfazza Nabawi Tour & Travel, membagikan kisah perjalanan spiritualnya setelah memilih menggunakan tabungan untuk beribadah ke Tanah Suci.

MAKKAH – kawanbisnis.com – Keinginan menikah kembali akhirnya dikesampingkan Sutarto (69), seorang buruh bangunan asal Semarang. Tabungan yang semula disiapkan untuk masa depan justru ia kumpulkan demi mewujudkan keinginan beribadah umrah ke Tanah Suci.

Keputusan tersebut tidak datang secara tiba-tiba. Sutarto mengaku mulai memiliki keinginan berangkat umrah sekitar dua tahun lalu. Saat itu, ia sudah mempunyai sedikit simpanan, meski di lingkungan tempat tinggalnya santer terdengar kabar bahwa dirinya akan menikah lagi.

“Sekitar dua tahun lalu punya pikiran mau umrah, sudah ada sedikit uang,” ujar Sutarto seusai mengikuti khataman Al-Qur’an di Masjidil Haram, Makkah, dalam rangkaian program umrah PT Alfazza Nabawi Tour, Ahad (23/8/2026).

Rencana pernikahan tersebut kemudian dibicarakan bersama keluarga. Putri dan dua putranya disebut kurang menyetujui apabila Sutarto kembali menikah dengan perempuan yang sebelumnya sudah cukup mereka kenal. Dari pembicaraan keluarga itulah pilihan untuk mendahulukan umrah semakin menguat.

Menurut Sutarto, anak-anaknya menyerahkan keputusan tersebut kepadanya. “Ya sudah, kalau bapak mau umrah dulu ya silakan. Saya ikut keputusan bapak,” kata Sutarto menirukan respons salah seorang anaknya.

Selama bertahun-tahun, Sutarto terbiasa menyisihkan penghasilannya sebagai buruh bangunan. Sebagian uang ia titipkan kepada putrinya sebagai bekal masa tua agar kelak tidak membebani anak-anaknya. Tabungan tersebut tercatat telah mencapai sekitar Rp10 juta.

Sumber dana lain berasal dari uang Rp13 juta yang sebelumnya dipinjam sang adik. Sutarto mengaku tidak pernah terburu-buru menagih karena merasa belum membutuhkan uang tersebut. Selain itu, ia masih menyimpan sekitar Rp10 juta sendiri dan menitipkan Rp7 juta kepada keponakannya.

“Jadi totalnya sudah ada uang Rp40 juta,” ujarnya.

Setelah dana dinilai mencukupi, Sutarto mulai mencari informasi mengenai keberangkatan umrah. Ia akhirnya memilih program perjalanan selama 12 hari yang mencakup tujuh hari di Makkah dan lima hari di Madinah.

Menurut dia, seluruh uang sengaja dikumpulkan terlebih dahulu sebelum mencari kepastian program perjalanan. Langkah itu dilakukan karena ia tidak ingin menanyakan biaya umrah tanpa kesiapan dana. Setelah semuanya terkumpul, ia meminta sang adik membantu proses pendaftaran pada Agustus 2026.

Warga Tambakrejo, Gayamsari, Kota Semarang tersebut kemudian menerima perlengkapan keberangkatan berupa dua koper, tas punggung, tas pinggang, hingga pakaian ihram. Keluarga pun menggelar acara sederhana sebagai bentuk syukur menjelang keberangkatannya ke Tanah Suci.

Selama berada di Makkah, Sutarto kerap berkomunikasi dengan keluarganya melalui panggilan video. Setiap menuju Masjidil Haram, ia berusaha memperlihatkan suasana sekitar kepada putrinya.

Sutarto mengaku dapat melaksanakan umrah sebanyak tiga kali selama tujuh hari berada di Makkah. “Alhamdulillah umrah relatif lancar, semoga mabrur dan berkah,” tuturnya.

Perjalanan tersebut juga membawa perubahan dalam keputusan hidupnya. Sutarto mengaku tidak lagi memiliki keinginan menikah kembali setelah menjalankan badal umrah untuk istrinya yang telah meninggal dunia.

Bagi Sutarto, perjalanan ke Tanah Suci bukan semata soal keberangkatan ibadah, tetapi menjadi pilihan hidup setelah bertahun-tahun bekerja dan menyisihkan penghasilan. Di usia 69 tahun, ia memilih menggunakan hasil jerih payahnya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus mencari ketenangan batin.

Share This Article